05 Agustus, 2009

* MENDIDIK BALITA AGAR AKTIF SECARA SOSIAL


Sebentar lagi balita Anda akan memasuki pre-school dan merasakan pengalaman bersekolah untuk pertama kalinya. Dia akan memulai untuk bersosialisasi dengan teman sebayanya, bukan hanya dengan anggota keluarganya. Karena itu Anda perlu mengetahui cara mendidiknya agar ia pun aktif secara sosial.

Seorang anak balita tidak mampu bersosialisasi seperti kita yang sudah dewasa. Di usia yang sangat dini ini, sebagian besar anak belum mempunyai empati yang cukup untuknya bermain secara harmonis di dalam grup. Bagi kebanyakan balita, satu hal yang paling penting baginya adalah dirinya sendiri. Ditambah lagi, balita masih belum mengerti dengan jelas mengenai hal yang benar dan salah, belum bisa bersopan-santun dan pada dasarnya belum bisa mengendalikan diri.

Tetapi, untuk beberapa tahun ke depan, ia dapat belajar untuk berbagi dan bekerjasama, belajar peka akan perasaan orang lain, menyelesaikan pertengkaran dengan kata-kata dan bukan dengan perilaku yang agresif, pendeknya, mereka akan mampu untuk berteman. Anda bisa membantu mereka mencapai titik ini dengan melakukan hal-hal berikut ini:

1. Mengajarkan rasa percaya diri. Anak-anak harus menyukai dirinya sendiri sebelum mereka dapat membuka diri kepada orang lain.

2. Berteman dengan balita Anda. Kesempatan pertama balita Anda untuk berteman adalah dengan orang tuanya. Di setiap saat Anda bersamanya, ingatlah untuk mencontohkan perilaku sosial yang benar. Ajarkan ia untuk berbagi, ajarkan ia untuk berkata, “Boleh tidak?” bila ia hendak melakukan atau mengambil sesuatu, ajarkan ia untuk berterima kasih, Mengobrollah dengan dia dan siapkan ia untuk beradaptasi dengan situasi sosial yang akan ia hadapi di kemudian hari.

3. Bermain dengan anak lain. Lebih mudah bagi kebanyakan balita untuk bersosialisasi dengan hanya satu orang anak lain. Anda bisa mengatur agar si Kecil bisa bermain dengan anak teman Anda, atau sepupunya, terutama bila anak Anda mempunyai kesulitan bergaul dengan grup yang besar. Tetapi, jangan memaksanya untuk bergaul bila ia belum siap; selain tidak adil untuknya, hal ini juga bisa menyebabkan ia untuk berotak.

4. Ajarkan permainan secara grup. Ada beberapa aktivitas yang mendukung kebersamaan dibanding individualisistis, seperti permainan petak umpet, membangun balok, permainan bola, dan permainan lain yang mengharuskan anak-anak untuk bergiliran dan memberikan pengalaman yang mereka butuhkan untuk memupuk persahabatan.

5. Bersikap netral dan awasi dia dari dekat. Karena balita masih seringkali tidak bisa ditebak dan emosional, saat ia mulai bergaul, Anda perlu mengawasinya. Anda tidak perlu terlibat dalam pergaulannya tetapi Anda harus menjaga bila tiba-tiba terjadi konflik. Anda juga harus bisa bersikap netral dan tidak selalu memihak anak Anda.

6. Terima gaya bergaul anak Anda. Setiap balita, seperti juga orang dewasa, mempunyai pendekatan yang tersendiri dalam bergaul. Ada yang lebih senang bermain dengan grup besar, ada yang lebih senang bergaul dengan satu-dua teman saja. Tetapi ada juga yang cuma lebih senang mengamati dari jauh dan tidak mencoba bergaul dekat. Semuanya tidak apa-apa.

7. Berikan banyak kesempatan untuk berlatih. Anak-anak yang memulai pergaulan pada umur yang lebih awal (berasal dari keluarga besar, biasa bermain dengan anak tetangga, dsb) akan lebih mudah untuk bersosialisasi. Bila anak Anda belum mempunyai pengalaman ini, Anda bisa mengaturkan grup bermain baginya, atau Anda juga bisa membiasakan dia bermain dengan sepupu-sepupunya terlebih dahulu.

8. Jangan memaksa. Bila Anda memaksanya untuk bersosialisasi, Anda tidak membantunya untuk berteman, sebaliknya ini bisa membuat ia menjadi anti sosial. Seiring dengan waktu, anak Anda akan mengerti sendiri bahwa bermain dengan teman sebayanya adalah sangat menyenangkan.

sumber: www.nutrisibalitacerdas.com

04 Agustus, 2009

* YUK SEKOLAHKAN ANAK SEJAK DINI

Yuk Sekolahkan Anak Sejak Dini!

Untuk Anda calon ibu muda, sudah harus memperhatikan pendidikan si kecil sejak dini। Menurut data, perkembangan berpikir anak berkembang pesat saat balita. Ini juga bisa membuat si anak giat sekolah sampai dewasa kelak

Siang itu matahari bersinar terik. Anisa yang telah memakai seragam merah putih berangkat ke sekolah di sebuah desa di pedalaman Jawa Barat. Mulutnya terus terkatup, ketika guru memintanya untuk mengulang pelajaran berhitung yang sederhana. Dia bahkan sama sekali tidak membuka mulutnya untuk menjawab beberapa pertanyaan gurunya. Anisa sulit sekali diajak komunikasi. Dia tampak pasif dan penakut. Beda dengan Tomi walau sama-sama kelas satu SD, tapi Tomi lebih berani dan aktif. Anisa dan Tomi hanyalah contoh kecil, anak yang tidak ikut dan ikut PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Mengapa pendidikan anak usia dini menjadi penting? Dari berbagai penelitian tentang anak menunjukkan bahwa perkembangan intelektual anak terjadi sangat pesat pada tahun-tahun awal kehidupan anak. Sekitar 50% variabilitas kecerdasan orang dewasa sudah terjadi ketika anak berusia 4 tahun. Peningkatan 30% berikutnya terjadi pada usia 8 tahun dan sisanya 20 tahun pada pertengahan atau akhir dasawarsa kedua.

Data dari Unicef juga menunjukkan bahwa anak-anak yang mengulang kelas adalah anak-anak yang tidak mengikuti PAUD sebelum masuk SD. Mereka adalah anak yang belum siap dan tidak dipersiapkan oleh orang tuanya memasuki SD. Adanya perbedaan yang besar antara pola pendidikan di sekolah dan di rumah menyebabkan anak yang tidak masuk pendidikan usia dini mengalami kejutan sekolah dan mereka mogok sekolah atau tidak mampu menyesuaikan diri sehingga tidak dapat berkembang secara optimal. Ini menunjukkan pentingnya upaya pengembangan seluruh potensi anak usia dini.

Tingkat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya PAUD (0-6 th) masih rendah, terutama di desa-desa dan daerah pedalaman. Rendah karena kurangnya sosialisasi dan terbatasnya sarana dan prasarana.

Siapapun dan di mana pun mereka, anak-anak punya hak yang sama untuk mengecap pendidikan demi menyongsong masa depan mereka yang lebih baik. Karena dipundak merekalah nasib bangsa ini dipertaruhkan.

sumber: DETIK.COM

01 Agustus, 2009

* BILA ANAK MULAI MENJENGKELKAN

Dasar untuk menjalankan kehidupan adalah dengan menetapkan aturan.
KOMPAS.com - Bila Anda pernah menonton acara Nanny 911, Anda mungkin pernah melihat tingkah laku anak-anak yang sudah mirip "monster". Mereka tidak bisa diberitahu dengan cara teguran atau pun bentakan. Anda sendiri mungkin juga pernah mengalaminya, meskipun tidak separah yang Anda lihat di televisi. Macam-macam yang mereka lakukan. Dari menolak makan, belajar, berkeras meminta sesuatu (tanpa bisa diberi pengertian bahwa Anda belum gajian), dan lain sebagainya.

Sikap anak yang menunjukkan ketidaksetujuannya pada orangtua sebenarnya sudah diawali sejak ia masih bayi. Pada umur 1 tahun, anak sudah "cukup usia" untuk melakukan sesuatu dengan caranya sendiri. Cara yang digunakannya memang seringkali berbahaya, berantakan, atau bisa menciderainya, sehingga membuat orangtua khawatir. Namun pada usia ini sebenarnya anak bukannya sedang membangkang. Mereka hanya perlu mendengarkan instruksi Anda berulang kali.

Saat anak sudah lebih besar, perilakunya memang cenderung berubah menjadi pembangkang, karena ia sudah lebih tahu apa yang diinginkannya. Repotnya, menurut Duane Alwin, sosiolog dari Penn State University, pada masa sekarang orangtua kurang memberikan nilai-nilai kepatuhan pada anak, demikian juga keselarasan, dan menghargai wewenang orangtua. Orangtua lebih tertarik membantu anak mempelajari hal-hal seperti toleransi dan kemandirian. Pada penelitian lain, Leon Kuczynski, psikolog dari University of Guelph di Ontario, Canada, mengatakan, orangtua modern ingin membesarkan anak dengan dasar membangun hubungan, sehingga mereka memilih tidak menerapkan disiplin yang tegas.

Menurut Prof. DR. H. Arief Rachman, M.Pd, sebenarnya yang perlu dilakukan orangtua adalah mengembangkan situasi yang positif untuk anak. Bila anak menjadi menjengkelkan, biasanya hal ini disebabkan orangtuanya yang menjengkelkan mereka. Jadi, yang harus berubah lebih dulu adalah orangtua. "Sebaiknya, saat Anda sedang jengkel, jangan mengurusi anak. Biarkan Anda tenang dulu, melakukan recovery," ujar Pak Arief, seperti disampaikannya dalam seminar "Mengatasi Perilaku Menjengkelkan pada Anak", Jumat (24/7), di Jakarta Convention Center.

Pengamat pendidikan ini menekankan, anak hadir karena keinginan orangtuanya. Karena itu, orangtua tidak boleh enggan bekerja keras dan mudah menyerah dalam mendidik anak. Bahkan, orangtua yang bekerja pun harus selalu ingat bahwa dirinya harus mampu menyeimbangkan diri antara tugas sebagai ibu (atau ayah) dan sebagai wanita karir. Dasar untuk menjalankan kehidupan yang seimbang adalah dengan menetapkan aturan. Sampaikan peraturan tersebut pada anggota keluarga yang lain; bila perlu, tuliskan. "Jangan menganggap semua orang yang ada di sekeliling kita mengerti aturan yang kita tetapkan (jika kita tidak pernah menyampaikannya)," papar guru besar Universitas Negeri Jakarta ini.

Meskipun demikian, kita tidak harus selalu menyampaikan aturan tersebut dengan keras. Menyampaikan aturan yang keras kadang-kadang malah membuat anak kebal, dan mengabaikannya. Selain itu, kita memiliki otak kanan dan otak kiri yang harus dirangsang dengan seimbang. Otak kanan mengatur sikap patuh, disiplin, dan penurut. Sedangkan otak kiri lebih bebas, mendorong untuk berjalan sendiri, dan banyak bertanya.

Karena itu, bila menginginkan anak untuk melakukan sesuatu, kita tidak harus selalu menyampaikannya dengan nada perintah. Anda juga bisa memberikan dalam bentuk pertanyaan atau pilihan, misalnya, "Adek mau ikut Ibu pergi atau enggak?" Lalu jelaskan apa konsekuensi atau syaratnya, "Kalau mau ikut, habiskan dulu makanannya, ya?"

Tips mendisiplinkan anak:
*Jangan memukul. Hal ini memberikan pesan bahwa menggunakan kekuatan (fisik) diperbolehkan. Lagipula, anak belum bisa memahami hubungan antara respons Anda dengan kesalahannya.
*Jangan terlalu sering mengatakan "tidak" atau "jangan". Anak batita yang kelewat sering mendengarkan hal ini juga akan mengabaikannya, atau justru melakukan apa yang dilarang. Lebih baik Anda langsung mengatakan, "Adek, ayo matikan TV-nya."
*Jangan langsung melunak jika anak menangis. Hal ini bisa digunakannya sebagai "senjata" bila keinginannya tidak dituruti.
*Tetaplah tenang. Berteriak bisa membuat anak takut, namun hal itu belum tentu akan mengubah perilakunya.
*Berikan penghargaan saat anak berperilaku baik. Beri ciuman, pelukan, atau kata-kata pujian saat ia mendengarkan atau menuruti perintah Anda.
*Lakukan kontak mata. Hal ini menunjukkan respek dan menuntut perhatiannya.


DIN

* MAKANAN YANG MENCERDASKAN OTAK PADA MASA "Golden Years"


Anak-anak butuh asupan makanan yang tepat dan seimbang guna menjamin pertumbuhan fisik dan otak yang optimal.
KOMPAS.com — Penting untuk diketahui setiap orangtua, bahwa proses perkembangan dan pertumbuhan otak anak dimulai sejak ia masih dalam kandungan, hingga anak berusia 3 tahun. Pada masa-masa inilah sel-sel saraf otak berkembang amat pesat. Jika pada masa ini bayi tidak mendapatkan kebutuhan gizinya, kekurangannya tak akan bisa dipenuhi lagi di kemudian hari. Karena itu, penting untuk bisa memenuhi kebutuhan nutrisi seimbang di usia ini.

Perlu diketahui, ada dua tahap masa golden years anak: pertama, sejak konsepsi hingga bayi berusia 9 bulan dalam kandungan. Kesehatan bayi berada dalam kondisi optimal baru bisa terdeteksi langsung setelah kelahiran, yang ditandai dengan berat lahir normal, Inisiasi Menyusu Dini (anak langsung mencari puting ibu), dan anak menangis. Kedua, dihitung sejak kelahiran bayi hingga 2 tahun.

Ketika anak lahir, otaknya baru mencapai perkembangan 60 persen, dan ketika ia mencapai 2 tahun, otaknya baru mencapai 80 persen. Makin ia berkembang hingga 14-15 tahun, otaknya mencapai perkembangan hingga 90 persen. Tentunya ini diketahui dengan membandingkan kemajuan fisik dan kemampuan anak sesuai tabel pertumbuhan anak. Untuk bisa mencapai potensi optimal otak dan pertumbuhan fisiknya, diperlukan nutrisi tepat dan seimbang, juga stimulasi untuk otak.

Asupan anak untuk periode usia emas kedua merupakan hal yang krusial untuk anak. Diperlukan kemauan dan kerja keras orangtua untuk memastikan si kecil mendapat nutrisi tepat dan seimbang tersebut. Apa saja yang dibutuhkan?

Makanan yang terbaik dan tepat untuk bayi berumur 0-6 bulan adalah ASI. Bayi usia 6 bulan bisa diperkenalkan kepada makanan padat sesuai kemampuan dan umurnya. Misal, nasi tim, sari buah, dan lainnya. Makin beragam jenis makanan yang diperkenalkan pada anak, makin variatif menunya, makin baik dampaknya kepada pemenuhan zat gizinya.

Pertumbuhan yang cepat pada usia balita memerlukan penambahan konsumsi zat pembangun (bahan makanan mengandung protein) dan pengatur (bahan makanan mengandung vitamin dan mineral). Bertambahnya aktivitas memerlukan penambahan bahan sumber tenaga (bahan makanan mengandung karbohidrat dan lemak). Pertumbuhan mental memerlukan lebih banyak zat pembangun, terutama untuk pertumbuhan sel-sel otak yang sangat cepat.

Ir Marzuki Iskandar, MTP, dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia mengatakan bahwa karbohidrat harus memenuhi 55-60 persen, sementara protein 15-20 persen, lemak 25-30 persen, dan sisanya vitamin. Karbohidrat bisa didapatkan melalui bahan makanan seperti umbi-umbian, jagung, dan gandum. Sementara protein hewani dan nabati bisa didapat dari ikan, kacang kedelai (tahu dan tempe), susu, dan keju. Lemak yang berasal dari hewani dan nabati juga penting untuk dipenuhi lewat sumber lemak esensial yang juga dikenal sebagai lemak cerdas (DHA, AA, Omega-3, dan Omega-6). Vitamin bisa didapat dari buah dan sayur, juga sinar matahari pagi hari, demikian disampaikan Ir Marzuki dalam seminar "Brain Food untuk Masa Golden Years", Jumat (24/7) di Jakarta.

Makanan apa yang terbaik untuk otak yang harus terpenuhi? Ir Marzuki, yang biasa disapa Pak Uki, menjabarkan, untuk Omega-3, bisa didapat dari labu parang, minyak biji kapas, dan kacang-kacangan. Sementara untuk Omega-6 bisa didapat dari jagung, biji bunga matahari, biji wijen, dan susu pertumbuhan yang diperkaya dengan lemak esensial tadi. Sementara untuk DHA bisa didapatkan melalui salmon, makarel, herring, sardin, tuna, minyak wijen, lemon, minyak biji bunga matahari, kenari, zaitun, dan lain-lainnya.

Makanan terbaik untuk protein otak adalah tyrosine dan tryptophan yang bertugas sebagai penyampai pesan ke otak dan pengolah pesannya. Bahan ini bisa didapatkan dari telur, susu pertumbuhan yang sudah diperkaya kedua hal ini, ikan-ikanan, daging putih (daging unggas), daging merah, dan biji-bijian seperti kacang serta hasil olahannya (tempe, tahu, dan oncom).

Pak Uki juga menyatakan akan pentingnya 9 mineral kunci kekuatan mental, yakni zat besi, magnesium, fosfor, mangan, sodium, potasium, kalsium, seng, dan boron. Zat ini menjamin pesan otak mengalir lancar ke seluruh sistem saraf dan otak. Tujuh vitamin yang juga sangat penting bagi otak adalah; vitamin B1, B2, B3, B5, B6, dan biotin, ditambah vitamin C.

Jangan lupakan juga fungsi sayuran. Warna pada sayuran bisa mengisyaratkan kandungannya. Warna-warni makanan memiliki kandungan zat gizi yang penting bagi kesehatan otak, seperti:
*Paprika merah, kaya akan beta karoten.
*Bawang bombay, warna kuningnya dari antoxantin, pelindung kuat terhadap kerusakan akibat radikal bebas.
*Brokoli, kaya akan beta karoten yang juga ada di dalam wortel.
*Bit, warna ungunya disebabkan karena antosianid, yang melindungi membran otak.
*Tomat, warna oranye kemerahannya menandakan antioksidan likopen yang kuat untuk melindungi membran otak.
*Wortel, warna jingganya berasal dari beta karoten, mineral kalsium, magnesium, dan zat besi.
*Alpukat, mengandung beta karoten, vitamin C, dan vitamin E. Buah ini juga mengandung lemak tidak jenuh.
*Jambu biji, sumber vitamin C tinggi.
*Pepaya, vitamin C yang tinggi dan enzim papain untuk mencerna protein.

Perlu diingat juga, diperlukan variasi untuk memberikan makanan kepada anak-anak. Selain karena anak-anak bisa bosan dengan makanan yang sama berulang-ulang, variasi pun memperkaya vitamin dan gizi yang diasup anak. Salah satu asupan yang tak boleh terlupakan pula adalah air, untuk memastikan bahwa makanan terproses dan menghantarkan zat-zat penting tadi ke seluruh tubuh.

NAD

* KIAT MEMILIH PENGASUH BALITA YANG BAIK


KUALITAS tumbuh kembang anak di bawah usia lima tahun ditentukan faktor keturunan dari orangtua dan lingkungan yang bisa memenuhi kebutuhan jasmani, asih, dan asah balita. Bila kedua orangtua bekerja setiap hari dari pagi sampai petang dan pengasuhan di serahkan sepenuhnya kepada pengasuh balita, meski kedua orangtuanya berpendidikan menegah atau tinggi.

Maka dari itu, kualitas pengasuh balita (baby sitter atau pramubalita) akan berpengaruh besar dalam pembentukan kualitas balita Indonesia. "Karena itu, orangtua perlu berhati-hati memilih balita untuk memperkecil dampak negatif yang timbul akibat rendahnya kemampuan pramubalita dalam memberi asih dan asah kepada balita yang diasuhnya," kata dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang pediatri sosial dr Soedjatmiko, Jumat (24/4), di Jakarta.

Setiap hari ayah dan ibu harus berusaha untuk berinteraksi dengan balitanya sebanyak-banyaknya, untuk memberikan asih dan asah sebanyak -banyaknya, sehingga kualitas tumbuh kembang balitanya tidak didominasi perilaku pramubalita tetapi dibentuk pula oleh perilaku ayah dan ibunya yang berpendidikan lebih tinggi, sehingga balita-balita Indonesia kelak akan jadi manusia dewasa yang bermutu tinggi pula.

Pada prinsipnya pengasuh balita harus sehat jasmani dan rohaninya. Sehat jasmani artinya ia tidak mengidap penyakit yang dapat ditularkan kepada balita yang diasuhnya, fisiknya kuat dan terampil untuk memenuhi berbagai kebutuhan balita. Sehat rohani artinya pramubalita harus punya rasa kasih sayang dan sabar terhadap balita yang diasuhnya (asih) dan terampil mengajak bermain balita untuk memberi berbagai rangsangan (asah) untuk memacu perkembangan balita.

Kesehatan jasmani pramubalita

Untuk mengetahui kesehatan jasmaninya, idealnya semua pramubalita harus diperiksa fisiknya oleh dokter keluarga, untuk mengetahui apakah ada penyakit yang dapat menular pada balita yang diasuhnya. Sebaiknya dilengkapi dengan pemeriksaan laboratorium darah, urin, dahak, tinja dan foto rontgen. Pemeriksaan dilakukan sebelum mulai berkerja, kemudian diulang secara periodik misalnya setahun sekali.

Pemeriksaan fisik dapat menilai kesehatan, kekuatan dan ketrampilan fisik pramubalita, tetapi yang terpenting untuk mencari kemungkinan ada penyakit yang dapat ditularkan kepada balita melalui tangan, badan, mulut, nafas, dan saluran pencernaan. Penyakit kulit misalnya kudis, jamur, skabies dan kutu rambut, dapat menular bila pramubalita mandi kurang bersih, tidak memakai sabun atau penyakitnya tidak diobati.

Penyakit saluran nafas, di antaranya batuk, pilek, tuberkulosis dan difteri, dapat menular bila pramubalita ketika batuk pilek tidak menutup hidung dan mulut dengan masker, saputangan atau serbet. Penyakit saluran kencing dapat menular bila sesudah cebok, pramubalita cuci tangan tidak bersih dan tidak menggunakan sabun. Penyakit saluran pencernaan, misalnya cacingan, tifus perut, hepatitis, disentri, dan muntah-berak, dapat menular bila pramubalita tidak mencuci tangan sampai bersih.

Pemeriksaan laboratorium darah, urin, dahak dan tinja dap at mengetahui kemungkinan adanya penyakit pada pramubalita misalnya kurang darah (anemia), infeksi saluran kencing, infeksi saluran nafas dan paru, infeksi usus, telur cacing, amuba, bakteri tipus, bakteri-bakteri lain. Pemeriksaan foto rontgen dapat melihat kelainan pada paru, jantung, tulang iga dan dada. "Bila pramubalita dicurigai ada penyakit, sebaiknya segera di periksakan ke dokter keluarga terdekat," kata Soedjatmiko.

Pengetahuan dan ketrampilan kurang

Idealnya pramubalita harus mempunyai dua modal utama yaitu, mempunyai rasa kasih sayang (asih) terhadap balita yang diasuhnya, dan mempunyai pengetahuan serta ketrampilan bermain dengan balita untuk merangsang atau menstimulasi perkembangan balita yang diasuhnya. "Ini sebenarnya merupakan peran keluarga (ayah dan ibu) dalam mengasuh balitanya. Tetapi bagi keluarga yang suami-istri bekerja, terpaksa peran ini dilimpahkan pada pramubalitanya ketika ayah dan ibu tidak ada di rumah," ujarnya.

Sayangnya pada umumnya kursus-kursus pramubalita tidak mampu memberi pengetahuan dan ketrampilan asih dan asah atau stimulasi tersebut kepada pramubalita sehingga mereka umumnya hanya trampil dalam memandikan, menceboki, memberi makan, menggendong dan mencuci pakaian balita.

Pramubalita harus sabar, penuh kasih sayang dan konsisten dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan balita, sehingga menimbulkan rasa nyaman dan aman kepada balita, sehingga balita merasa percaya kepada lingkungannya, berani mengeksplorasi lingkungan, serta bera ni mencoba melakukan berbagai kegiatan. Hal ini akan menimbulkan percaya diri pada balita yang merupakan landasan penting bagi pengembangan emosi sosial serta keberanian berkreasi di kemudian hari.

Pramubalita yang sering menakut-nakuti, mengancam, memarahi, memaki apalagi menghukum, mencubit atau memukul balita yang diasuhnya maka dapat diadukan karena perlakuan salah atau kekerasan pada anak, sehingga balitanya akan jadi pencemas, merasa tidak aman, penakut, tidak percaya diri . Hal ini akan mengganggu perkembangan emosi-sosial di kemudian hari dan tidak mempunyai keberanian untuk bereksperimen. Bahkan balita yang sering mengalami kekerasan kelak sesudah dewasa cenderung akan melakukan kekerasan pula pada anak-anaknya.

Selain itu pramubalita harus mengetahui cara bermain dengan anak untuk merangsang perkembangan berbicara, berpikir (kecerdasan), keberanian meniru, mencoba, menyusun, merangkai, memecahkan masalah, duduk, berdiri, berjalan, berlari, meloncat, melempar, menggambar, tenggang rasa, berbagi, kemandirian dll. Umumnya kursus pramubalita tidak mampu memberi pengetahuan dan pelatihan tentang hal ini.

Sikap dan perilaku

Perilaku balita awalnya bersumber dari refleks-refleks alamiah, dan berkembang lebih kompleks dengan mendengar, melihat, mencoba, menirukan lalu bereksperimen. Bilamana pramubalita sehari-hari berbicara baik, berperilaku baik, memberi contoh-hal-hal baik, mendorong balita untuk mencoba, memberi pujian bila berhasil, tak banyak membatasi, melarang atau mengancam, tidak memarahi, memaki, menghukum, mencubit dan tidak memukul, maka balita juga akan berkembang jadi anak baik.

Namun bilamana sehari-hari pramubalita sering berbicara kasar, kotor, tidak etis, maka tanpa disadari balita akan banyak meniru kata-kata itu. Bila sehari-hari pramubalita sering melakukan sesuatu yang berbahaya di depan balita, misalnya mengorek telinga, mengiris dengan pisau, menggunting, mengutak-utik stop kontak listrik, atau lalai ketika menyeterika, menggoreng, meletakkan air panas, maka balita akan menirukan perilaku pengasuhnya sehingga dapat menimbulkan kecelakaan dan cedera pada balita.

Bila pramubalita banyak melarang, membatasi, tidak memberi kesempatan balita untuk mencoba atau berkreasi, apalagi sering memarahi, mengancam, mencubit atau memukul maka balita tidak punya percaya diri, pencemas, penakut sehingga tidak mempunyai keberanian mengembangkan ide dan kreativitas di kemudian hari. "Karena itu, sikap dan perilaku dari pramubalita ikut menentukan kualitas generasi mendatang," ujar Soedjatmiko.

sumber: kompas.com (evy)


* POLA MAKAN SEHAT UNTUK BALITA

Seiring dengan pertumbuhan balita Anda, pola makannya pun akan berubah. Mulai banyak jenis makanan yang ia bisa dan suka makan. Tetapi yang ia bisa dan suka makan bukan berarti selalu baik untuknya. Beberapa jenis makanan yang mengandung tepung putih, lemak tinggi, gula, pewarna buatan, bahan kimia, dan lain-lain tidaklah baik untuk dikonsumsi balita Anda sehari-hari. Jadi bagaimana cara mendidik balita Anda untuk mempunyai pola makan yang sehat? Tips-tips di bawah ini dapat membantu Anda.

Jadikan rumah Anda sebagai “surga nutrisi” untuknya. Anda mungkin tidak bisa terlalu mengawasi pola makan anak Anda saat ia berada di luar rumah, tetapi Anda bisa mengawasinya saat ia berada di rumah. Dengan menjaga tradisi makanan sehat di rumah Anda, dan memberikannya makanan yag tidak mengandung bahan-bahan yang tidak baik untuknya, balita Anda akan selalu memakan makanan yang bernutrisi tinggi untuk tubuhnya.

Berikan mereka makanan sehat yang lezat. Jika Anda mengganti permen dengan potongan wortel, tentu saja balita Anda akan menganggap makanan bernutrisi tinggi dengan rasa tidak enak. Berikanlah mereka makanan yang sehat tetapi lezat, buah-buahan yang menarik, dan sebagainya. Balita yang belum terkontaminasi dengan makanan yang tidak sehat akan lebih menyukai makanan sehat dibandingkan makanan ringan yang berkalori tinggi.

Berikan contoh dengan pola makan Anda sendiri. Bahkan anak berusia 2 tahun akan protes jika ada standar ganda di keluarga, dimana ia harus makan yang sehat tetapi Anda memakan makanan yang tidak bernutrisi tinggi. Berikan ia contoh bahwa bukan saja anak kecil yang harus makan sehat tetapi mempunyai pola makan sehat berguna bagi seluruh keluarga.

Beritahukan semua yang mengurus balita Anda bahwa Anda ingin mereka makan sehat. Karena bukan cuma Anda yang mengurus balita Anda, Anda harus memberitahu pengasuh mereka, guru mereka di Pre-School, TK, dan sebagainya bahwa mereka harus dibiasakan makan sehat. Ini bukan berarti mereka tidak boleh memakan kue ulang tahun saat teman atau sepupu mereka merayakan ulang tahun, tetapi hanya sebagai indikasi bahwa Anda ingin mereka makan sehat senantiasa dan bukan makan junk food/makanan yang tidak bernutrisi.

Buat perjanjian dengan anak Anda. Sering kali yang menyebabkan balita Anda memakan makanan yang tidak sehat adalah pengaruh teman sebayanya. Dengan membuat perjanjian dengan anak Anda, supaya mereka menghindari makan makanan junk food/yang tidak bernutrisi saat bermain dengan teman-temannya, akan membantu anak Anda untuk mempunyai pola makan yang sehat.

Jangan terlalu ketat. Pada akhirnya, bila Anda selalu memaksanya untuk makan sehat, balita Anda bisa merasa frustrasi karena Anda terlalu keras mendidiknya. Berikan dia kesempatan sekali-sekali untuk memakan makanan junk food, sebagai “hadiah” karena ia sudah berhasil mempunyai pola makan yang sehat. Batasi jumlahnya dan jangan terlalu sering membiarkannya jajan di luar. Dengan ini, rasa ingin tahunya akan terpenuhi tanpa merusak pola makan sehatnya.

sumber: www.nutrisibalitacerdas.com

31 Juli, 2009

* TIPS MEMBUAT ANAK RAJIN BELAJAR


Beberapa tips di bawah ini SANGAT MENENTUKAN dan EFEKTIF diterapkan supaya anak SUKA BELAJAR:

1. SUASANA YANG MENYENANGKAN adalah SYARAT MUTLAK yang diperlukan supaya anak suka belajar. Menurut hasil penelitian tentang cara kerja otak, bagian pengendali memori di dalam otak akan sangat mudah menerima dan merekam informasi yang masuk jika berada dalam suasana yang menyenangkan.

2. Membuat ANAK SENANG BELAJAR adalah JAUH LEBIH PENTING daripada menuntut anak mau belajar supaya menjadi juara atau mencapai prestasi tertentu. Anak yang punya prestasi tapi diperoleh dengan terpaksa tidak akan bertahan lama. Anak yang bisa merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan akan mempunyai rasa ingin tahu yang besar, dan sangat mempengaruhi kesuksesan belajarnya di masa yang akan datang.

3. Kenali tipe dominan CARA BELAJAR ANAK, apakah tipe AUDITORY (anak mudah menerima pelajaran dengan cara mendengarkan), VISUAL (melihat) ataukah KINESTHETIC

4. Belajar dengan JEDA WAKTU ISTIRAHAT setiap 20 menit akan JAUH LEBIH EFEKTIF

5. Anak pada dasarnya mempunyai naluri ingin mempelajari segala hal yang ada di sekitarnya. Anak akan menjadi SANGAT ANTUSIAS dan SEMANGAT untuk belajar jika isi/materi yang dipelajari anak SESUAI DENGAN PERKEMBANGAN ANAK. Anak akan menjadi mudah bosan jika yang dipelajari terlalu mudah baginya, dan sebaliknya anak akan menjadi stress dan patah semangat jika yang dipelajari terlalu sulit.
(fisik). Meminta anak secara terus menerus belajar dengan cara yang tidak sesuai dengan tipe cara belajar anak nantinya akan membuat anak tidak mampu secara maksimal menyerap isi pelajaran, sehingga anak tidak berkembang dengan maksimal. daripada belajar langsung 1 jam tanpa istirahat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak mampu melakukan konsentrasi penuh paling lama 20 menit. Lebih dari itu anak akan mulai menurun daya konsentrasinya. Jeda waktu istirahat 1-2 menit akan mengembalikan daya konsentrasi anak kembali seperti semula.